Penetralan (Reaksi Asam dan Basa)
Reaksi penetralan merupakan reaksi antara senyawa asam dengan senyawa
basa, atau reaksi penggaraman yang menghasilkan air. Jika suatu asam kuat dan
basa kuat yang ekuimolar, direaksikan (dicampur) dalam larutan air, maka ion
hidronium dari asam dan ion hidroksida dari basa akan bersenyawa membentuk air.
Demikian juga dengan asam lemah maupun basa lemah. Sehingga dalam perhitungan
kimiawi, reaksi penetralan akan terjadi alam beberapa kasus, dan menghasilkan
garam‐garam dengan sifat yang berbeda. Berdasarkan kekuatan asam atau basa,
reaksi penetralan dibedakan atas 4 macam.
Asam kuat dengan basa kuat. Dalam reaksi
asam kuat dengan basa kuat, mula‐mula asam maupun basa terdisosiasi atau mengion
dalam pelarut (air). Asam kuat, misalkan HCl, akan terion menjadi hidronium dan
anion (HCl +H2O → H3O+ + Cl‐), sedangkan
basa kuat, misal NaOH, akan terion menjadi ion hidroksida (OH‐) dan kation
(Na+). Kemudian ion ion akan melakukan reaksi (penetralan) membentuk
garam dan air.
Reaksi lengkap : H3O+ + Cl‐ + Na+ + Cl‐ → 2H2O + Na+
+ Cl‐
Dengan persamaan ion netto sederhananya sebagai berikut :
H+ + OH‐ →
H2O
Ion Na+ dan Cl‐ ini akan tetap dalam bentuk ion pada larutan
air, dikarenakan kelarutannya sangat besar pada pelarut ini (hampir semua garam
dapat larut dengan baik di air). Dengan melakukan evaporasi pelarutnya
(penguapan air), akan diperoleh padatan/kristal NaCl.
Asam kuat dengan basa lemah. Reaksi
antara asam dengan basa, tak selalu menghasilkan larutan netto yang bersifat
netral, karena larutan netral hanya diperoleh jika asam dan basa yang bereaksi
sama kuatnya. Dapat diperhatikan untuk kasus HCl, asam kuat, dicampurkan dengan
NH3, basa lemah, akan menghasilkan garam yang mempunyai kation
bersifat asam (NH4+) sehingga larutan bersifat asam. Mula‐mula baik HCl akan
terhidrolisis dalam pelarut air, meghasilkan ion‐ionnya.
HCl + H2O →
H3O+ + Cl
Ion ini akan melakukan reaksi dengan NH3 secara cepat,
membentuk air dan garam terlarut, ammonium klorida (NH4Cl).
Reaksi total H3O+
+ Cl‐ + NH3 → NH4+
+ Cl‐ + HOH
Asam lemah dengan basa kuat. Contoh sederhana untuk menjelaskan reaksi ini adalah
reaksi asam asetat yang mengalami reaksi saponifikasi (penyabunan) dengan NaOH.
Larutan garam hasil reaksi ini bersifat basa. Sama dengan asam kuat, basa kuat
NaOH akan terionisasi lebih dahulu menjadi Na+ dan OH‐. Ion hidroksida ini akan segera bereaksi dengan asam
asetat membentuk air dan ion asetat.
NaOH
+ H2O → Na+ + OH‐ + H2O
Na+
+
OH‐ + CH3COOH
→
Na+
+
CH3COO‐ + H2O
Larutan garam natrium asetat yang dihasilkan ini bersifat
basa, karena ion asetat bertindak sebagai basa dalam air, sedang ion natrium
tidak cukup bertindak sebagai asam.
REAKSI OKSIDASI
Reaksi Oksidasi juga disebut terbakar reaksi. Oksidasi
yang tidak lengkap ditandai dengan nyala api merah dan ada jelaga. Jelaga
terbakar atom.
Hanya beberapa bagian dari senyawa alkena dan alkuna
yang terbakar sepenuhnya.
Hal ini disebabkan oleh atom karbon yang lebih tinggi
dalam alkena dan alkuna dari yang di alkana.
Hasil karbon yang lebih tinggi lebih banyak oksigen
diperlukan untuk membakar.
Contoh:
Oksidasi besi (II) menjadi besi (III) dengan hidrogen
peroksida dalam kehadiran asam:
Fe2+ → Fe3+
+ e−
H2O2 + 2 e− → 2 OH−
Keseluruhan persamaan:
2 Fe2+ + H2O2
+ 2 H+ → 2 Fe3+
+ 2 H2O
Permasalahan :
Mengapa reaksi asam asetat yang mengalami reaksi saponifikasi (penyabunan) dengan NaOH ?
menurut literatur yang saya baca bahwa reaksi saponifikasi bisa dengan NaOH,KOH dan NH4OH tetapi penggunaan alkali kuat lebih utama digunakan di bandingkan alkali lemah dan juga alkali yang mempunyai pH tinggi lebih di utamakan seperti NaOH yang termasuk alkali kuat dengan pH lebih tinggi di banding yang lain sehingga sabun yang di hasilkan lambat larut dalam air...
BalasHapus